Jeprat-Jepret Jalan Braga Bandung

Braga merupakan salah satu kawasan di kota kembang Bandung yang masih menjaga nilai history kolonial. Tapi sayangnya pemeliharaan nilai history ini masih jauh dari harapan. mengingat masih banyak gedung-gedung tua yang dibiarkan begitu saja tanpa adanya perawatan yang berarti.

Berjalan dikawasan ini rasanya seperti memutar mundur pada jaman kolonial Belanda. konon dari sejarah yang ada, jalan yang ada di jantung kota bandung ini adalah kawasan elit kompeni-kompeni belanda. Sebut saja toko mobil pertama di Hindia Belanda Fuchs & Rents, penjahit August Savelco yang menjadi langganan tokoh penting dari JP. Coen hingga Bung Karno dan butik Au Bon Marche, yang hanya menjual pakaian impor dari Paris. Nah, butik inilah yang menjadikan Bandung dijulikii Parisj van Java.

Museum Asia-Afrika Bandung…

Foto-foto ini diambil saat saya mengunjungi Museum Asia-Afrika. Sebuah bangunan yang pada 54 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1955 digunakan sebagai tempat berkumpulnya sejumlah pemimpin dunia dikawasan Asia-Afrika.

Pada zaman kolonial Belanda tahun 1895 gedung ini digunakan sebagai gedung perkumpulan orang Eropa Societeit congcordia dalam berbagai pertunjukan seni.

Salah satu tokoh Indonesia yang memulai karir seninya adalah Ismail Marzuki. Saat itu ia diminta Belanda untuk menunjukan kepiawaian permainan biolanya.

Gedung yang berada di jalan Asia-Afrika ini dibangun pada tahun 1895. pada tahun 1921 gedung ini direnovasi ulang oleh seorang arsitektur Belanda C.P Wolff Schoemaker dengan gaya Art Deco.


Pada masa pendudukan Jepang Gedung ini berubah nama menjadi Dai Toa Kaikan. Dan pasca kemerdekaan 1955 Presiden Soekarno merubah namanya menjadi gedung Merdeka.

Selain memiliki history pada zaman kolonial, gedung ini juga menjadi titik awal perdamaian khususnya dikawasan Asia-Afrka. Sejak berakhirnya perang dunia II tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan diantara bangsa-bangsa, yang diperlihatkan dengan perang dingin antara blok barat dan blok timur serta banyaknya penjajahan, terutama dikawasan Asia-Afrika.


Dengan latar belakang itulah Soekarno dan Ali sastro mencetuskan ide konfrensi Asia-Afrika yang diikuti oleh 29 negara. Konfrensi yang berlangsung selama sepekan 18-24 april 1955 menghasilkan rumusan yang dikenal dengan Dasasila Bandung.

Nah seiring berkembangnya zaman, gedung ini akhirnya terbuka untuk umum. Di Museum ini kita dapat menyaksikan rekam sejarah masa kolonial hingga pasca kemerdekaan, melalui foto-foto.Kiita juga dapat menyaksikan sejarah awal mulanya konfrensi ini melalui ruang audio visua, perpustakaan.

Beruntungnya saya dapat memasuki ruang konferensi dan melihat keaslian benda-benda seperti meja dan kursi yang digunakan pada saat konfrensi pada tahun 1955.

Amerika & Kemenangan Obama

Jika hari ini Marthin Luther King masih berada diantara kita, aku yakin dia akan tersenyum bangga, berdiri tegak dengan membusungkan dada, dan tidak henti-hentinya berkata “ This is a dream” ketika melihat kehidupan Amerika saat ini, terutama pada hasil pemilu yang dimenangkan oleh kulit hitam pertama, Barack Obama.

Kemenangan Obama membuat kata sederhana “I Have A Dream” yang terlempar dalam orasinya penuh semangat dan inspiratif di depan makam Abraham Liclon, dan ribuan buruh kulit hitam saat berdemonstrasi atas ketidakadilan ras. Rupanya tidak hanya sekedar kata populer yang pernah terlontar oleh tokoh kharismatik King akan sebuah mimpi. Berlahan namun pasti kata itu akan menjadi nyata.

Hal yang sama juga akan dirasakan oleh mantan presiden Amerika ke-35 Jhon F Kennedy. Kemenangan pria yang pernah tinggal selama 4 tahun di Indonesia, juga akan mewujudkan keinginan Kennedy untuk membawa Amerika pada kehidupan yang lebih baik, hilangnya diskriminasi dan warna kulit.

Setali tiga uang dengan keduanya, Abraham Liclon, pria kelahiran Kentucky 12 februari 1809 ini, juga memiliki mimpi yang sama membawa Amerika bebas dari segala bentuk penindasan, perbudakan dan diskriminasi. Keinginan ini dilatar belakangi oleh perang saudara yang terjadi pada tahun 1861-1865 yang dipicu oleh masalah perbudakan dan hak-hak sipil. Peristiwa ini mencapai puncaknya pada tahun 1862 di Negara bagian Pennysilvania atau yang terkenal dengan sebutan konfrontasi Gettysburg.

Impian-impian ketiganya dan aku yakin masih banyak tokoh-tokoh lainya, berharap sebuah kehidupan yang lebih baik di Amerika akan menjadi nyata. Mengingat baik Abraham Liclon, Jhon F Kennedy pernah melihat, merasakan penindasan, diskriminasi, rasisime terjadi didepan mata mereka.

Memutar memori pada beberapa abad yang lalu, sejarah dengan jelas mencatat, pada abad ke-19 terjadi sebuah pembantaian bangsa asli Amerika Yaitu Indian. Pembantaian ini dilatar belakangi atas perebutan tanah antar bangsa asli dan pendatang dari eropa. Hampir 70 ribu bangsa Indian, terusir dari tanah kelahiranya dan terjadinya pembunuhan masal.

Pada tahun 1934 setelah peristiwa itu, pemerintah membentuk sebuah kebijakan “Reorganization Act”. Dengan kebijakan itu, bangsa Indian mendapat pengakuan oleh pemerintah. Tapi rupanya itu hanya sebatas pengakuan, sebab secara hak asasi manusia, bangsa Indian tetap saja mendapat perlakuan diskriminasi dengan menempatkan mereka di kawasan tertentu atau layaknya sebuah penampungan yang terisolasi. Bukankah ini bukti bahwa masalah ras dan diskriminasi begitu sangat mengakar disana. Maka tidak heran jika King, Kennedy dan Linclon memiliki mimpi yang sama untuk membebaskan Amerika dari diskriminasi, penindasan dan perbudakan.

Kemenangan presiden terpilih Barack Obama, rupanya menjadi titik terang akan perjuangan dan pengorbanan ketiganya, atau mungkin tidak hanya titik terang tapi sebuah kenyataan akan mimpi-mimpi mereka. Kemenangan Barack Obama atas rivalnya Jhon Mc Cain, memang sebuah kemenangan yang cukup mengejutkan. Meski banyak lembaga survey dunia memastikan Obama akan dengan mudah melenggang ke White House, tapi tidak sedikit dari warga amerika bahkan dunia yang tetap pesimis akan dukungan penuh terhadap Obama, apalagi ras yang dimiliki berasal dari keturunan kulit hitam.

Dengan mengantongi lebih dari 300 electoral vote dari rivalnya Mc Cain yang hanya mampu mengumpulkan dukungan sebanyak kurang dari 200 electoral Vote. Obama sudah dapat memenangkan pemilu. Sejarah mencatat, 43 presiden negeri adidaya ini selalu di dominasi kulit putijh, kemenangan Obama mampu mendobrak dominasi dan menjadi satu-satunya presiden Amerika kulit hitam pertama.

Dalam sejarah politi AS, istilah M-W-P-A masih menjadi syarat mutlak bagi pemimpin tertinggi Amerika. “M” diartikan male, yaitu laki-laki. “W” diartikan White, yaitu kulit putih. “P” diartikan protestan, yaitu beragama protestan. Dan “A” diartikan Anglo Saxon, yaitu nenek moyang Eropa khususnya inggris.

Pada abad 21 ini, pandangan bahwa Amerika bangsa yang rasis, memang sudah jauh lebih baik dibanding masa-masa abad ke-18. Namun meski berubah wajah, diskriminasi ternyata masih saja ditemukan di Amerika. Sebelum akhirnya Barack Obama menjadi presiden terpilih, bukankah sering kita saksikan bagaimana kedua kubu berkampanye.

Saya teringat berita pada sebuah harian ibu kota yang memberitakan pendapat Mc Cain tentang kepantasan rivalnya Barack Obama untuk melenggang ke gedung putih. Dengan tegas Mc Cain mengatakan bahwa Obama tidak memilki kesetaraan performa seperti presiden Amerika yang diabdikan dalam bentuk uang dolar. Kesetaraan disini diartikan dengan warna kulit Obama yang hitam. Harian prancis “Liberation” juga mengambarkan kampanye Mc Cain yang bertendensi rasisme, kalau tidak salah begini bunyinya “Apakah mampu seorang presiden kulit hitam merubah Amerika”

kemenanga senator asal Ilinois pada pemilu Amerika lalu, ternyata mampu mencetak sejarah baru di Amerika. Kemenangan laki-laki yang pernah bersekolah di SD Menteng ini pun, setidaknya mampu mewujudkan impian King, Kennedy dan linclon untuk menghilangkan rasisme yang sudah lama berakar di Amerika.

Kepercayaan masyarakat Amerika terhadap Obama, menyatakan dengan tegas, jika perubahan yang diharapkan King, Kennedy dan Linclon benar-benar membuahkan hasil. Meski Obama terlahir dari keragaman etnik, mengingat Ayahnya, Barack Husein Obama, berasal dari suku lou, merupakan suku terbesar di Kenya, dan Ibunya Stanley Ann Dunham, seorang antropologis keturunan Amerika yang lahir di Kansas. Namun keragaman yang dimiliki Obama nyatanya tidak juga menyurutkan masyarakat Amerika untuk tidak memilih Obama sebagai orang nomer satu di Amerika. Kemenangan suami Michail Obama, setidaknya dapat membawa angin segar perubahan pandangan diskriminasi warna kulit di Amerika.

Keragaman dalam keluarga besar pria yang pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia ini, semoga dapat menjadi landasan kuat bagi pemerintahan Obama dalam membuat kebijakan-kebijakan Amerika. Mengingat kebijakan Amerika akan membawa dampak bagi masyarakat dunia. Bukankah indvidu yang terbentuk dan berada dalam sebuah keragaman akan jauh lebih muda menghargai, menghormati serta memahami.

Kemenangan Obama yang membuat decak kagum seluruh penjuru dunia, semoga juga tidak hanya menjadi uforia sesaat. Lantas terhanyut oleh kedudukan tinggi dan lupa akan janji-janji kampanye. Bukankah ini adalah sifat amnesia para pemimpin ketika kedudukan, kenyamanan, kemudahan telah dinikmatinya.

Melihat pemikiran-pemikiran Obama yang terlihat berbeda dari pendahulunya Bush, seperti menghentikan invasi di Irak serta menarik mundur pasukan dari negara yang kaya akan timah hitam itu, semoga juga tidak mengikuti pendahulunya Jhon F Kennedy yang ditembak sniper di Dalas, Texsas, sepekan setelah dirinya terpilih menjadi presiden AS yang ke-35, oleh lawan politiknya yang tidak suku pada kebijakan Kennedy untuk mendatangkan mahasiswa asal Afrika bersekolah di Amerika. Atau nyawa Linclon yang berakhir di tangan simpatisan lawan politiknya, di Washington DC saat dirinya sedang menyaksikan perrtunjukkan di Ford`s Theater.

Meski untuk mewujudkan impian King, Kennedy dan Linclon Amerika harus melalui waktu berabad-abad lamanya. Pembantaian kulit hitam yang tidak berprikemanusian dan nyawa Jhon F Kennedy dan Linclon harus berakhir ditangan sniper, akibat intrik dengan lawan politiknya yang tidak senang pada kebijakannya. Semoga Kemenangan Obama tidak membuat perjuangan mereka sia-sia. Setidaknya Kemenangan Obama dapat merubah sinisme banyak pihak, terutama pasca kebijakan Bush menginvansi Irak.

Lalu apa yang salah dengan perbedaan warna kulit, apa yang salah dalam perbedaan jenis kelamian, apa yang salah jika ada negeri yang memilki kekayaan alam yang berlimpah, apa yang salah jika ada orang atau negeri yang memiliki pemikiran berbeda dengan lainya. Bukankah itu semua adalah kekayaan, keunikan dan keberagaman yang tidak penting untuk diributkan. Ada baiknya mulai sekarang kita mengamini apa yang pernah dikatakan Marthin Luther King bahwa hargailah individu dari kemampuanya. Kemenangan Obama sebagai orang nomer satu AS mungkin bisa menjadi representasi pemikiranya dan tanda peradaban di dunia ini sudah mulai membaik.

Imie

Nek Minah, Kakao dan Rasa Keadilan

Gurat wajahnya tak lagi tegas. Sorotan matanya terlihat kuyu. Sesekali pandangannya ia sapu kesejumlah kerabat yang ada dibelakang kursi pesakitan yang ia duduki. Hanya jemari tangan yang terbalut kulit kriputnya yang terus Nek Minah mainkan, disela-sela pembacakan amar putusan baginya oleh ketua majelis hakim Muslich Bambang Luqmono. Bisa jadi itu cara Nek Minah menenangkan dirinya atas putusan yang akan dijatuhkan hakim.

Masih dengan wajah yang begitu pasrah, wanita yang hampir berusia setengah abad ini terus mengikuti jalannya persidangan yang digelar Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah atas kasus yang membelitnya.

Dengan bahasa jawa yang terdengar ngapak dialek Banyumasan, Nek Minah mencoba melakukan pembelaan diri atau bahasa nyentrik dilingkungan hukum disebut “Pledoi” tanpa didampingi satu orang pun kuasa hukum. Namun, meski seorang diri bahkan tak mengerti apa itu persidangan, tak membuat gentar wanita buta huruf ini gamang menjalani proses persidangan.

“Kalau dipenjara inyong (saya) ga mau pak hakim”
“iya pak hakim, Nyong salah”

Begitulah sepenggal cuplikan persidangan Nek Minah yang saya saksikan di media elektronik pada jumat sore 20 November 2009.

Sebenernya kasus Nek Minah relative sepele, dibandingkan kasus-kasus koruptor yang telah merampok uang negeri ini. Namun, sebelum saya mengurai perbandingan keduanya, saya rangkai terlebih dahulu latar belakang apa yang menyebabkan Nek Minah harus berurusan dengan hukum.

Pada pertengahan agustus lalu, Ibu enam anak ini mengikuti sang suami bekerja. Awalnya Nek Minah hanya ingin menemani sang suami yang menjadi salah satu buruh di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan 4 (RSA). PT. SRA adalah perseroan terbatas yang menguasi perkebunan Kakao seluas 210 hektar yang berada diwilayah Banyumas, Jawa Tengah.

Entah apa yang terbesit dalam pikiran Nek Minah, saaat sang suami melarutkan diri dalam pekerjaanya, tiba-tiba ia memetik tiga buah Kakao dalam perkebunan tersebut. Tanpa disadari, perbuatan nenek tujuh cucu ini, tertangkap tangan oleh Sumartono, mandor perkebunan tersebut. Saat tertangkap basah, Nek Minah lalu mengembalikan tiga buah Kakao.

Masalah pun selesai dengan kebesaran jiwa Nek Minah untuk mengaku salah dan meminta maaf atas perbuatanya tersebut. Namun rupanya permintaan maaf Nek Minah yang telah dianggap selesai oleh Mandor PT. RSA, tidak berbanding lurus dengan pihak manajemen PT.RSA yang pada akhir agustus lalu akhirnya melaporkan Nek Minah ke pihak yang berwajib dengan delik pelaporan pencurian tiga buah Kakao, sekali lagi TIGA BUAH KAKAO.

Setelah kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Purwokerto terhitung dari tanggal 13 Oktober hingga 1 November lalu, Nek Minah dikenai tahanan rumah. Satus tersebut tentu bukanlah perkara yang mudah bagi wanita 55 tahun ini, karena setidaknya ia harus bolak balik kantor Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Purwokerto untuk sejumlah administrasi hukum.

Jauhnya Jarak rumah Nek Minah dengan kantor Kejaksaan dan pengadilan Negeri Purwokert, setidaknya uang sebesar Rp. 50.000 harus ia keluarkan untuk biaya transportasi yang jaraknya hampir 30-an kilometer dari rumahnya yang berada di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. Padahal untuk mendapat uang sebesar itu tidaklah mudah bagi keluarga Nek Minah. Keprihatinan tersebut menggerakkan Noor Hanih, salah seorang jaksa penuntut umum yang pernah memberikan uang sebesar Rp.50.000 ribu untuk biaya transport Nek Minah.

Diluar rasa keadilan, sebenarnya dengan menyidangkan kasus Nek Imah yang mencuri tiga buah Kakao, ada sebuah harapan lebih pada hukum negeri ini, yaitu ada upaya penegakan hukum tanpa melihat kasus apa yang dipersidangkan. Mengingat undang-undang pun jelas menegaskan bahwa apapun yang melawan hukum harus ditindak sesuai hukum yang berlaku.

Kasus Nek Minah adalah segelintir dari sekian banyak kasus hukum yang dialami rakyat kecil di negeri ini. Tentu fakta ini terlihat kontras dengan kasus hukum yang menimpa pejabat-pejabat atau orang-orang berpengaruh negeri ini. Dibalik tirani kekuasaan bahkan uang, sepertinya hukum haram menyentuh mereka.

Sebut saja kasus korupsi pengusaha PT. Masaro. Meski kasus dugaan korupsi yang dilakukannya telah bergulir dari setahun yang lalu, nyatanya hingga kini, kakak pengusaha Anggodo widjojo tersebut masih saja melenggang kangku, dan hidup nyaman di Singapura. Bahkan untuk menjegal upaya hukumnya, Anggodo widjojo berupaya menyuap sejumlah penegak hukum. Upaya penyuapan tersebut terkuak saat diputarnya rekaman Anggodo Widjojo dan sejumlah penegak hukum berbincng ditelepon, saat diperdengarkan pada persidangan uji materi yang diajukan KPK terkait penangkapan ketua non-aktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah di Mahkama Konstitusi kepada publik awal November lalu.

Jika kasus Nek Imah yang hanya mengambil tiga buah kakao saja sampai di meja hijau, mengapa kasus-kasus kakap yang mencuri uang Negara hingga triliunan rupiah tak juga kunjung disidangkan?

Atau memang ini adalah wajah peradilan negeri ini? lemah, mudah dibeli, tidak bernurani dan hanya mampu menyidangkan kasus-kasus sepele?

Imie

Kemerdekaan “kebebasan”

Di penghujung Oktober kemarin, tepatnya di minggu terakhir, keinginanku untuk mengunjungi adikku yang saat ini menetap di kota kembang bandung, terealisasi juga. Itu pun setelah beberapa kali tertunda. Kesibukan selalu menjadi alasan klasik. Biasanya adikku selalu bilang “kamu payah” acap kali aku mengurungkan niatku untuk menyambanginya.

Selepas dzuhur aku menuju bandung dengan bus Primajasa jurusan Jakarta-Tasik. Dan ini kali pertamanya aku menggunakan bus ke luar kota dalam setahun terakhir. Karena biasanya, kereta api menjadi pilihan favoritku.

Rasanya ada kenyamanan tersendiri saat berada di dalam gerbong. Hamparan sawah yang hijau, natural, bebas kemacetan dan bunyi khas dari gesekan roda baja dengan lempengan besi jalur kereta yang ditimbulkanya. Tapi, jangan harap bunyi khas itu akan terdengar ketika gerbong eksekutif menjadi pilihan. Design kedap suara kelas satu, membuat suara khasnya akan samar terdengar, bahkan tak terdengar.

Untuk melihat kondisi bangsa kita tentang kemiskinan yang belum juga terselesaikan, berada didalam gerbong kereta adalah pilihan yang tepat. Sebab, kita akan menyaksikan fakta kemiskinan yang sesungguhnya, tanpa terdistorsi organisasi media yang mewartakan kondisi ini. Aku jadi teringat dosen pembimbing skripsiku dulu, ketika kami terlibat dalam diskusi yang sengit bagaimana media mewartakan sebuah fakta.

Aku, nota bane mahasiswa yang masih belum terkontaminasi oleh hal praktis, serta masih berpegang teguh pada teori-teori jurnalistik bahwa fakta merah harus diwartakan merah, tentunya menentang dengan tegas pernyataan beliau bahwa fakta merah dilapangan bisa jadi biru, kuning atau kelabu ketika ada dihadapan pembaca.

Dengan senyum renyahnya, beliau mengeluarkan dan memberikan sebuah buku berwarna hitam, bergambar kepala manusia terbungkus koran berjudul analisis wacana sebuah pengantar. Belakang setelah diskusi dan kulahap isi buku itu, aku mengerti bahwa fakta merah tidak lagi ditampikan merah, mengingat adanya distorsi (pengaruh) ketika fakta berada dalam proses pewartaan, salah satunya adalah organisasi media. (mungkin dilain waktu menarik menjadi bahan tersendiri untuk dibahas diruang ini.he..he…

Merujuk pada sedikit analisis yang dikatakan buku yang langka itu, dibalik jendela kereta adalah media yang tepat untuk melihat fakta dan realitas sebenarnya. Rumah petak yang penuh sesak, berhimpitan dan terbangun dengan material seadanya adalah pemandangan khas disisi jalur kereta. Kadang aku tak habis pikir bagaiman mereka menempati rumah dengan kondisi seperti itu. Padahal hampir semua bangunan tanpa fentilasi udara, jauh dari sehat dan tidak layak huni, ditambah bisingnya suara gerbong ini acap kali melintas.
rmh kumuh

Meski demikian bangunan-bangunan itu tetap menjadi surga bagi mereka, menjadi pelindung dari matahari dan hujan. Bahkan, aku tak pernah menyaksikan wajah –wajah mereka yang mengisyaratkan kondisi yang sebenarnya. Karena, canda, tawa masih dapat aku saksikan dibalik jendela kereta. Itulah kesan yang kutangkap dari transportasi ini, meski banyak orang yang mengkliam bahwa perjalanan dengan menggunakan kereta api, sungguh perjalanan yang membosankan. Sebab, sejauh mata memandang hanya deretan sawah dan rawa-rawa yang tak pernah putus, rumah-rumah petak yang jauh dari layak. Tapi buatku, justru disitulah letak bagaimana alam mengajari kita untuk bersyukur atas keadaan dan keberadaan kita saat ini. ketika kita dapat tidur dengan tenang diatas kasur pegas yang empuk, bagaimana dengan mereka? Biasanya aku Cuma tertunduk malu, tiap kali pemandangan itu ku saksikan. Malu pada Tuhan karena kurangnya syukur atas nikmat yang lebih dari mereka.

*

Matahari masih sangat menyengat ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus, Jakarta selatan, padahal jam tangan yang melingkar ditangan kananku sudah menunjukan pukul 3 sore. Seharusnya keadaan udara sudah lebih menurunkan suhunya, tapi rupanya kondisi siang itu membenarkan perkiraan Badan Meteorology dan Geofisika (BMG) bahwa dalam beberapa bulan kedepan cuaca akan tidak menentu.

Saat kakiku baru saja melangkah keluar dari Metro Mini 86 jurusan Kota – Lebak bulus, aku dirundung ke bingungan. Berbagai jenis bus berjejer disana untuk berbagai tujuan. Rupanya kebingunganku tertangkap oleh salah seorang premaan, ini hanya kesimpulanku sementara, mengingat dia berdiri didepan pos pintu masuk, dengan baju dan gaya khas penguasa terminal.

Aku hanya melempar senyum padanya dan berusaha tidak menunjukan wajah kebingungan layaknya orang asing. Itu pantangan bagi kita ketika berada di tempat baru, apalagi di terminal. Justru kita harus menunjukan seolah-olah kita sudah terbiasa di tempat ini.Begitulah wejangan yang selalu bapakku katakan tiap kali aku akan pergian keluar kota. Meski beliau begitu percaya padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja,  tapi aku selalu merasakan kekhawatiran yang tersirat pada sorot matanya, acap kali aku pamit untuk pergi tanpa pantauannya.  Mungkin karena aku anak gadisnya.

Ah..Bapak tenang saja, anakmu ini bisa menjaga diri. Setidaknya sabuk kuning yang pernah aku dapatkan dapat menolongku dari gangguan diluar sana. Begitu Aku m selalu membatin tiap kali melihat kekhawatiran dimatanya.

Aku bersyukur memiliki orang tua yang begitu demokratis. Mereka tidak pernah memperlakukan kami (anak-anaknya) seperti sebuah boneka. Justru mereka menghargai hak-hak kami sebagai seorang anak dan individu. Memberikan pilihan beserta dampaknya adalah metode mereka mendidik kami. “ Bapak tidak pernah melarang kalian untuk bergaul dengan siapapun, ketika kalian memiliki filter, tapi jangan pernah coba-coba kalian masuk kepergaulan itu (khususnya pergaulan yang kurang baik), jika kalian tidak punya filter”. (filter disini artinya benteng yang kuat dalam diri kami. Dapat menyaring mana yang baik dan buruk.

Dulu bapakku menjelaskan filter adalah busa yang ada dibelakang sebuah roko. Menurut penjelasan sederhana bapakku, busa yang disebutnya filter adalah  alat penyaring nikotin dari rokok sebelum masuk kedalam paru-paru). Etahlah, beliau mendapatkan analogi itu darimana, mengingat beliau bukanlah perokok.

Begitulah petuah sakti bapakku. Enam tahun masa remajaku setelah peralihan dari masa kanak-kanak dan selama itu pula petuah itu selalu diputar berulang-ulang oleh bapakku. Allhamdulilah hasilnya memang cukup efektif bagi kami, meski berbagai macam latar belakang teman dan pergaulan yang aku miliki, bersyukur aku masih tetap menjadi diriku.

“Wah ga ada yang kecil neng?” lelaki setengah baya berseragam dinas Perhubungan Republik Indonesia yang berdiri di depanku dan disamping laki-laki yang kusimpulkan preman tadi, mengembalikan uang kepadaku, sesaat setelah aku menyodorkan uang kertas yang cukup untuk mentraktir tiga posri paket hemat plus pajak di KFC.

Dengan senyum manis yang aku punya, aku menggeleng bahwa aku hanya memiliki uang pecahan sejumlah itu. Lelaki yang berbadan tegap dengan warna kulit sedikit gelap akibat sengatan matahari, akhirnya mengembalikan uangku. Senyuman ramahnya membebaskan aku dari uang retrebusi. sambil berlalu aku ucapkan terima kasih pada lelaki yang ku taksir usianya sekitar tiga puluh lima, namun rutinitas pekerjaanya membuat dia terlihat sepuluh tahun terlihat lebih tua.

Senyuman memang obat yang paling mujarab dan tiada duanya. Senyuman pun bisa menjadi keajaiban yang luar bisa. Bapakku pernah bercerita perihal kekuatan senyuman yang mengantarkanya kepelukan ibuku.“tapi ingat senyumnya harus dari hati dan Percaya atau tidak ketika kita tersenyum wajah kita akan menampakan aura yang indah.”

**

Langkah kakiku hampir ke tengah terminal, setelah kutinggalkan pos pintu masuk dan dua penjaga tadi. Namun belum juga aku menemukan bus jurusan Jakarta – Tasik sesuai petunjuk adikku.

Awalnya aku bingung menerima penjelasan adikku yang memintaku untuk menggunakan bus jurusan yang sedikitpun tidak merepresentasikan (menjelaskan) Bandung yang akan menjadi tujuanku. Rupanya adikku merespon ketidakpahamanku, karena suaraku diujung telepon selular terdiam beberapa saat.

Dan penjelasanya cukup bisa kuterima, mengapa harus menggunakan bus jurusan kota yang berada di sebelah timur kota Bandung ini. Sebab bus yang akan aku tumpangi ini akan melewati tol Cileunyi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal adikku.

“Neng kamana..ayo..tasik..tasik..” lelaki berwajah bulat ciri khas tanah pasundan, yang ku terka seorang kondektur, menawariku untuk menggunakan armadanya dengan logat khas sunda.Puncuk dicinta ulam tiba, akhirnya aku menemukan bus yang aku cari. Bisikku dalam hati.

Sesaat ketika hendak menuju pintu bus, suara pangilan adzan sayup-sayup terdengar. Di depan pintu aku sempat terdiam antara apakah aku langsung naik atau memenuhi panggilan si-empunya langit. “ayo neng…huyuan atuh asup, geus tenang wae teuh bakal disasarkeun..” (ayo neng…cepet masuk, tenang saja ga bakal di sasarin) logat sundanya kembali terdengar. mungkin dia menangkap keragu-raguanku untuk naik ke atas bus.

Sebelum akhirnya aku putuskan untuk naik kedalam bus, aku meminta kondektur untuk menungguku barang beberapa menit untuk pergi sholat. Beruntung senyum hangatnya yang terlempar padaku mengisyaratkan memenuhi permintaanku.

Kurang dari lima belas menit aku sudah berada di dalam bus, rupanya waktu tercepat bertemu dengan-Nya. Kuasa dan cintanya semoga selalu memaklumi.

Sesaat setelah berada di dalam bus yang masih tidak terlalu penuh, kujatuhkan pilihanku pada bangku yang berada di tengah, dibaris bangku dua. Kusibakan kain gordeng yang menutupi kaca hitam yang menghalangi pandanganku keluar jendela. Dengan bebas mataku dapat menangkap pandangan diluar. Perlahan bus mulai bergerak meninggalkan terminal dan semakin membelakangi terminal.

***

Kondisi penumpang yang masih relatif kosong, bus yang kutumpangi tidak langsung masuk ke tol dalam kota, namun bus berjalan disisi jalan bebas hambatan untuk terus mencari penumpang. Laju bus semakin diperlambat ketika berada di perempatan uki, bahkan bus sempat berhenti beberapa saat.

Kondisi ini membuat aku senewen, karena pastinya aku akan sampai di bandung pada malam hari, pasalnya, ketika kulirik arloji dipergelangan tanganku sudah menunjukan pukul empat sore. Buku biru the secret of happiness karangan Ricard Schoch yang dari tadi tidak luput dari pandangan mataku menjadi tidak menarik, ketika mataku menangkap pandangan yang tidak lazim seorang pedagang CD yang menjajakan dagangannya didalam pagar sebuah taman yang tidak terawat. Seperti transaksi dari dan luar terali besi, aku membatin, saat kusaksikan lelaki muda sedang memilih beberapa tumpukan CD yang dipajang.

Kembali aku menangkap keganjilan, pasalnya tumpukan CD yang dijual, berada di didalam pelastik hitam, dan hanya beberapa CD saja yang terlihat di permukaan. Sontak mataku tak berkedip melihat pemandangan yang ada didepanku, saat bus benar-benar berhenti mencari penumpang. Bukan lantaran karena aku menikmati pemadangan itu. Ini karena wanita-wanita muda yang berpose dengan berbagai gaya erotis yang menjadi label dari CD tersebut membuat aku miris, karena diperjual belikan secara bebas, ditempat umum pula.

Aku semakin miris ketika bocah kecil yang berusia kurang dari 10 tahun yang jika kutebak dari apa yang ada di genggamanya, sebuah tumpukan tutup botol yang ia satukan pada sebatang kayu, dan jika benda itu digoyang kekiri dan kekanan pastinya akan menimbulkan nada adalah pengamen, menikmati juga pemandangan itu.Negeri kita memang sudah carut marut.

Memoriku langsung memutar mundur pada beberapa hari yang lalu, saat terlibat diskusi tentang pengesahan rancangan undang-undang anti pornografi dan porno aksi, belakangan setelah disahkan namanya berubah menjadi undang-undang pornografi.

UU ini tidak hanya salah kaprah, tapi juga akan mengekang hak individu. Argumentasi temanku saat itu. Bukankah berpakain adalah hak individu, mengapa Negara ikut capur dalam urusan ini. seharusnya negara berpikir saja bagaimana negeri ini sejahtera, kemiskinan terkurangi, angkatan kerja diperluas. Protesnya pada salah satu pasal yang menurut argumentasinya menyeret wilayah individu.

Hmmm..memang ada benarnya juga pendapat temanku, mengingat kebhinekaan negeri kita, membuat UU Pornografi menuai pro dan kontra, bahkan menimbulkan sentiment-sentimen tersendiri terhadap beberapa keyakinan. Gelombang-gelombang unjuk rasa yang sering kita saksikan di media massa, jelas menggambarkan bahwa wilayah agama terseret disana. Dan ini adalah wilayah rijit di negeri yang hidup berbagai keyakinan didalamnya. Seharusnya pemerintah tidak menjadi agen yang akhirnya menyeret sentiment-sentiment keyakinan, dengan mengatur bagaimana berbusana. Lebih baik itu menjadi urusan keyakinan masing-masing.

“ya tapi tidak bisa seperti itu, itu artinya kamu mendukung kebebasan yang digembar-gemborkan dunia barat, mau jadi apa negeri kita ini, klo tidak ada aturan yang jelas.” Temanku yang lain menjegal pendapatku. Aku hanya melempar senyum padanya.

Begini Ndar, kebebasan memang produk barat, karena kebebasan lahir disana, tapi tidak ada yang salah dengan kebebasan ketika kita memahami arti kebebasan yang sesungguhnya. Memang tidak bisa dipungkiri, dalam budaya kita, kebebasan dipandang sebagai cara hidup yang bebas. Sek bebas, kehidupan yang tidak bermoral, intinya bebas selalu diidentikan dengan liar dan keliaran. Jika nilai bebas seperti itu, dengan tegas aku juga akan mengatakan fuck of freedom.

Tapi coba pelan-pelan kita pahami bahwa kebebasan mengandaikan mahluk yang secara alami memilki kemampuan untuk merasa dan memilih. Memang benar kadang kebebasan selalu dikhawatirkan dengan berbagai pandangan, bahwa jika individu dibiarkan bebas memilih maka orang tersebut akan memilih hal-hal yang buruk. Tapi Ndar, entah kenapa aku tidak yakin dengan asumsi tersebut.

Coba kita pahami apa yang dikatakan filsuf asal Jerman Imanuel Kant pada abad ke-19, dia percaya bahwa manusia mampu memilih, mampu tumbuh dan dalam proses itulah terjadi pembelajaran. Kalau individu selalu terus-menerus dibuatkan pilihan dari otoritas diluar dirinya, aku yakin individu tersebut tidak kunjung matang dan berkembang.

Aku jadi teringat sahabatku dulu. Dia berada pada lingkungan keluarga yang sangat otoriter, hampir seluruh ruang geraknya sebagai individu tidak dihargai. Misalnya saja, tidak boleh ada teman lelakinya yang dekat dengan dia. Tidak boleh telat pulang ke rumah meski karena kegiatan organisasi di sekolah. Kakuknya aturan yang kelurganya buat ini, karena kekhawatiran orang tua akan pergaulan anaknya yang tidak sehat.

Menurut ku Ndar, ketika orang tua mengkhawatirkan anaknya terjerumus pergaulan yang tidak baik itu wajar, orang tua mana sih yang tidak ingin anak-anaknya menjadi kebanggana keluarga. Tapi cara yang dilakukan orang tua sahabatku ini, aku pikir kekhawatirkan yang berlebihan dengan mengekang “kebebasan” anak.

Lalu dengan memberlakukan aturan itu apa secara otomatis harapan mereka terwujud? Dengan tegas aku jawab TIDAK!! Ndar. Justru yang terjadi pada sahabatku ini malah membrontak dengan tidak mematuhi aturan yang dibuat keluarganya. Dan (maaf) aku kadang sedih melihat keadaan sahabatku sekarang. Dia hamil diluar nikah dan terjerumus pada pergaulan yang tidak sehat.

Kemerdekaan “kebebasan” itu penting Ndra. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku gagal mendaki gunung karena ada upaya orang tuaku melarang pendakian itu, namun gagalnya pendakian bukan semata-mata karena larangan orang tua. Orang tuaku hanya memaparkan dua sisi baik dan buruk jika aku memutuskan mendaki gunung saat itu, karena cuaca saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian.Meski demikian ada kemerdekaan yang mereka berikan padaku, mengingat segala keputusaan mereka serahkan sepenuhnya padaku.

Kemerdekan “kebebasan” yang diberikan kepadaku membuat aku belajar untuk jernih melihat persoalan, yang harus dipandang dari berbagai sisi. Kondisi yang dialami sahabatku menguraikan betapa kebebasan untuk merasa, memilih dan tumbuh itu penting. Dan ada proses disana, biarkan proses itu berjalan, dan yakin pada fitrah manusia, bahwa Tuhan menciptakan manusia dibekali dengan otak untuk berpikir, hati untuk merasa.Anggukan pelan Hendar mengakhiri diskusi kami saat itu.

Ketika CD porno yang dijual bebas di perempatan UKI, apa masih penting memperdebatkan masalah yang menjadi tanggung jawab individu??

Hard Talk & FRIENDS “BERGOYANG“

Foto-foto ini diambil saat kami berkaraoke ria di Inul Vista Sarinah, pada jum’at malam 13 November 2009. Kegilaan ini terjadi berkat kebaikan teteh, sapaan sayang kami pada Tina Talisa yang menjadi donaturnya. He..he.. nuhun ya teh…

Karaoke ria ini dimulai sekitar pukul sebelas malam, alias tiga puluh menit selepas show program kami “Apa Kabar Indonesia Malam” yang super heboh. Bayangkan saja, sepuluh menit menjelang on air Mas Wahyu selaku produser di Wisma Nusantara terjebak macet karena Jakarta diguyur hujan. Hmmm ternyata bukan hanya kelebihan mobil dijalanan,  hujan juga menjadi biang kemacetan kota ini.

Sebenarnya bukan hujan yang harus dipersalahkan atas kemacetan yang selalu saja terjadi acap kali hujan mengguyur, mengingat hujan adalah berkah yang tiada terkira dari Tuhan. Dan bisa jadi kemacetan terjadi karena sistem drainase negeri ini khususnya Jakarta, tidak berjalan dengan baik. Atau jangan-jangan memang sudah tidak ada lahan yang dapat menyerap air hujan karena kota ini telah terkepung bangunan-bangunan pencakar langit.

Sepertinya kita tinggalkan dulu masalah hujan dan kemacetan, mungkin lebih baik tema ini dikupas tersendiri dilain waktu. Nah, balik lagi pada siaran Aki Malam yang super heboh, ups maksudnya “Apa Kabar Indonesia Malam” (itu cuma sebutan kami untuk mengirit kata dan lebih singkat saja). Akhirnya kendali siaran diambil alih oleh Mas Taufik Produser yang stanby di studio pulo gadung bersama aku tentunya.

Untung saja teknologi sekarang sudah canggih, semua naskah yang akan dibacakan oleh Teteh aku kirim via email ke BB alias Blackbary. Coba kalau tidak ada BB, hmm alamat batal siaran deh, he..he.. gak segitunya sih, mungkin tepatnya ga bakal ada paket-paket berita yang bisa ditayangkan, karena semua naskah yang harus dibaca oleh Teteh, masih berada ditangan mas Wahyu yang masih terjebak macet.

Nah, foto dibawah ini kedatang aku dan Mas Taufik. Kami memang terlambat hampir empat puluh lima menit dari jadwal yang telah disepakati bersama yakni pukul sebelas malam.  Rupanya kemacetan akibat hujan yang mengguyur sore tadi belum juga terurai.  Tapi terharu juga melihat foto ini, moment kedatangan kami ada yang mengabadikan rupanya. Untuk siapa pun yang memotretnya thanks berat ya….we love u!!!

Nah kalau ini adalah foto super gokil, hmm..hmm tidak menyangka kalau bapak ketua “Hard Talk” beranak hampir lima ini (maaf saya tulis hampir, karena yang ke-5 masih ada didalam perut mamahnya, semoga persalinannya lancar ya kang)  ternyata bisa heboh juga. Moment ini memang langka, mengingat kang Irfan biasa kami menyebutnya jarang sekali tampil seperti ini, itu karena keseharian beliau yang bersahaja, he..he..bravo kang Irfan, WE LOVE U…

Moment ini benar-benar kami manfaatkan sebaik mungkin. Lihat saja kejailan aku dan teteh mencoba mengalungkan selendang dilehernya, seperti artis-artis jaipong dikampung mencari partner untuk berjoged. Maaf ya pak Prodek…kami abadikan moment ini dan publikasikan.

Akhirnya moment ini ditutup sebuah lagu yang dipopulerkan grup yang digawangi bimbim ” Slank”  yang kami nyanyikan bersama-sama. Kalau tidak salah judulnya “Kamu harus cepat pulang”.

Kami memang harus cepat pulang, karena saat itu waktu juga sudah menunjukan pukul dua dini hari. Sekali lagi tengkyu ya untuk moment indah ini. We Love U….

Sayonara…

Perkara Jodohak

Secara kasat mata sepertinya tidak ada korelasi antara kunci dan perkara jodoh, mengingat kunci adalah sebuah alat dan jodoh adalah pasangan hidup, soulmate, rahasia Tuhan dan masih banyak mungkin defenisi tentang jodoh.

Begini kira-kira penjabaranya, beberapa bulan yang lalu, saya sempat kehilangan sebuah kunci. Bukan kunci kamar, bukan pula kunci brangkas, cuma sebuah kunci kendaraan. Riwayat hilangnya kunci itu sebenarnya sangat klise, cuma karena Gunawan teman sekantorku lupa menyimpan dan meletakan kunci itu setelah ia memakai kendaraanku.
40
Tidak begitu ingat bagaimana kronoligisnya, kenapa gunawan sampai lupa meletakan dan menyimpan kunci itu, yang jelas memang pada saat itu suasana dikantor sedang sedikit krodit.

Aku sempat kesal dibuatnya, pasalnya kalau sampai kunci itu tidak ditemukan alamat aku tidak bisa pulang. Beruntung salah seorang temanku dikantor berbaik hati untuk meminjamkan kendaraanya. yang lebih beruntung lagi keesokan harinya adalah hari libur alias weekend, dengan begitu ada cukup waktu untuk membuat kunci baru.

Tepat hari senin, kunci duplikat kendaraanku selesai dikerjakan, dengan wajah yang sumringah tanpa dosa, gunawan memberikan kunci duplikat itu padaku. ternyata temanku yang satu ini bertanggung jawab juga rupanya, kalo tidak mungkin aku sudah memasukan dia pada daftar laki-laki “LTB” (ini cuma sebutanku saja untuk laki-laki yang tidak bertanggung jawab, karena sejatinya seorang laki-laki akan dianggap kesatria, dan sebenar-benarnya lelaki dimata para perempuan, jika mereka bertanggung jawab atas apa yang dilakukanya.

Meskipun kunci duplikat sudah berada ditanganku, tapi aku masih berharap kunci yang asli bisa ditemukan, pasalnya gantungan yang ada pada kunci itu adalah sebuah miniatur bangunan yang aku suka sekali, dan sedikitnya diperlukan waktu penerbangan kurang lebih dua jam, belum lagi biaya visa dan lain-lainya. Tapi mau bagaimana lagi, bukankah cara yang bijak adalah mengikhlaskannya untuk sesuatu yang kita miliki harus pergi, hilang dan mungkin menjadi milik orang, meskipun rasanya tidak rela dan sedih. Kalau sudah begitu sebutan yang pas adalah ” belum jodohnya”.

Hampir kurang lebih dua bulan dari hilangnya kunci itu, sedikit demi sedikit aku bisa menerima dan membiasakan dengan kunci duplikat yang ada, meskipun awalnya selalu kesal karena pasti aku selalu ingat gantungan kunci itu tiap kali aku memegang kunci duplikatnya, dan ini membenarkan apa yang pernah di ucapkan oleh…hmmm aku lupa siapa yang mengatakan ini, bahwa perubahan menimbulkan ketidaknyamanan. tapi itulah pelajaran yang paling berharga yang bisa kita ambil, ketika kita bisa membuat ketidaknyaman berangsur-angsur menjadi nyamana, tapi rupanya realita yang kita jalani tidak semudah itu.

Tepat di bulan ketiga, aku dikagetkan oleh sesuatu yang sudah dua bulan ini luput dari penglihatanku. Ternyata KUNCI-ku yang dulu hilang kembali lagi. saat itu cuma senyum yang tersungging dibibirku dan tentunya keinginan untuk mencari tahu krnologis keberadaan kunci itu terus bergelanyut dikepalaku. Orang pertama yang aku tanyai adalah Mas Didi karena kebetulan dia yang petama aku temui pagi itu. tanpa banyak basa-basi aku langsung bertanya perihal kunci itu, dan ternyata aku menanyakan pada orang yang tepat rupanya, pasalnya dia lah yang menemukannya.

Aku cuma mengrenyitkan dahiku mendengar penjelasan dia, bahwa kunci itu dia temukan disekitar tempat sampah kering. pasalnya dan jika aku telaah secara logika, bagaimana mungkin kunci itu baru bisa ditemukan pada bulan ketiga, mengingat tiap hari pastinya OB kantor selalu membersikan area itu, logikanya kunci itu bisa dilihat tiap kali para OB membersihkan area itu, tapi nyatanya kunci itu baru terlihat pada bulan ketiga.

Mungkin inilah refleksi perkara jodoh, dramatis, puitis, tidak bisa ditebak dan kadang tidak bisa dilogikakan. Pelajaran yang bisa diambil dari ini semua adalah, bahwa kalau memang jodoh ternyata tidak akan kemana. Meskipun kita harus mengalamai drama perpisahan, kesedihan, ketidakikhlasan, tapi kalau Tuhan sudah metakdirkan itu jodoh kita, apapun jalanya pasti akan menjadi milik kita. Tapi tentunya itu semua tetap harus dibarengi usaha dan ikhtiar, karena bukan berarti segala sesuatu akan datang dan secara tiba-tiba turun dari langit. seperti halnya kunciku, sebelum akhirnya menjadi milikku lagi, ada upaya mencari kunci itu kesegala penjuru.

 

Selamat Menempuh Hidup Baru Teman..

Decut….temanku, Decut sahabatku, Decut saudaraku, tak ada kata yang lebih pantas dan indah untuk mengambarkan suka cita kalian, kebahagian kalian dan kebersamaan kalian yang terajut dalam ikatan suci pernikahan. Hanya doa yang terus bergumul dalam hati saat kutulis ini semua. Doaku, harapanku semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. Begitu kira-kira orang bijak, ustad, orang tua, atau preman sekalipun berharapan pada sebuah pernikahan.

Ah..pasti kau tak percaya apa yang kutulis ini, mengingat si penulis belumlah cukup garam menyoal banyak hal tentang penikahan. Tapi tak usah khawatir, apa yang akan aku bagi saat ini, sudah aku sarikan dari buku-buku yang sengaja aku buru jauh hari sebelum hari pernikahanmu, curhat teman yang menikah muda yang masih terendap segar dalam memory, dan rekan-rekan yang jauh usianya diatas ku. He..he…

decut weding

Jaleswari Pramodharwani pernah berkata bahwa perkawinan sering dianggap puncak-puncak prestasi dalam perjalanan hidup, padahal ia (perkawinan) adalah sekumpulan kisah gembira sekaligus duka. Cerita menjengkelkan dan menyenangkan bersama. Air mata bahagia dan kegetiran bersama. Maka menurutnya tidak ada rumus tunggal untuk membangun kebahagian dalam perkawinan.

Sekilas jika kita renungkan apa yang dikatakan oleh jaleswari, secara kasat mata kita akan langsung berkesimpulan bahwa lembaga pernikahan adalah institusi yang membuat kengerian, apatis dan penuh kekhawatiran. Jika parameternya adalah tayangan televisi yang sering kali mempertontonkan perceraian selebriti, tentu apa yang dikatakan jaleswari bisa dibenarkan.

Tapi tunggu dulu teman, apa yang dikatakan jaleswari memang benar bahwa institusi pernikahan bukanlah institusi yang bebas dari tekanan dan pengharapan kedua belah pihak. Bahkan tanpa disadari keduanya (kalian) tanpa sadar memasang ego yang tidak terencana, karena kondisi adat, kebiasaan atau kisah-kisah ayat suci yang dijadikan pembenaran. Kasus poligami misalnya.

Rupanya atas kengerian itu, Jalaswari menemukan penawar yang cukup nyentrik jika dipraktekan di zaman ini, mengingat krisis kepercayaan terhadap pasangan kian hari kian menyusut. Penawar itu rupanya sebuah ruang yang besar yang harus ada diantara kalian, mengingat jarak tempuh yang akan kalian lewati sangat panjang. Isilah ruang itu dengan saling pengertian dan pemahaman, menerima dengan sepenuh hati baik kelebihan dan kekurangan kalian, dengan mengelolah kemarahan.

Meski bertubi – tubi rasa cinta atau ikat bunga mawar yang diberikan kepada pasangan, tidak lantaran semuanya bisa mengebalkan pertengkaran. Jika pertengkaran terjadi, ingatlah kalian tidak boleh meninggalkan gelanggang pertengkaran begitu saja. Namun jika hal itu terpaksa terjadi, ingatlah bahwa kalian saling menyayangi dan mencintai, meski sejuta kesal, amarah dan kejengkelan terjadi. Ingatlah RAHASIA PERTENGKARAN ITU, Teman.

Lain lagi apa yang didengungkan oleh Nirwan Dewanto, seniman sekaligus suami dari musisi wanita berambut cepak atau kita sering menyapanya Mba Upit. Perkawinan dimatanya seumpama sebuah musik jazz, dimana sang pasangan dengan keterampilan, wawasan dan kesadaran diri masing-masing sanggup memainkan improvisasi tak terduga dari komposisi yang terencana.

So….pernikahan ternyata mudah tapi juga sulit, dan kalian akan membuktikanya pada institusi yang akan kalian jalani ini. apa memang benar yang dikatakan orang-orang itu. kutunggu jawaba dari kalian.

Akhirnya, harga termahal pada sebuah pernikahan adalah meleburnya jati diri kalian, bukankah saling menghargai keberadaan masing-masing itu yang lebih baik.

Untuk Ara, meski aku belum begitu mengenal Suami sekaligus imam sahabatku Decut, Aku yakin Ara orang yang bertanggung jawab. Hanya itu, cukup. Karena buatku pertanggung jawaban sudah menggambarkan cinta, sayang, dan istilah lainya yang berada dalam wilayah itu.

Kalau boleh aku berharap pada Ara, sayangi wanita yang dengan rela memilih hidup bersamamu, menjadi nakhoda yang handal atas badai yang akan terjadi dalam biduk rumah tangga kalian. Cintai sahabatku ini sampai akhir hayatnya, jangan pedulikan kulitnya yang mengeriput atau rambutnya yang memutih.

Untuk sahabatku Dewi, harapanku semoga menjadi istri yang baik, menjadi nafigator yang handal bagi nakhodamu, ibu yang dapat melahirkan buah hati yang manis dan cerdas.

SELAMAT MNEMPUH HIDUP BARU…..

Subprime Mortage di Mata sahabatku

Tanpa angin tanpa hujan seorang teman bertanya seputar krisis finansial global. Mendengar berondongan pertanyaan temanku, mendadak air muka-ku berubah, bingung, heran dan sempat membatin (komunikasi dalam hati) “kesetanan apa nih anak, biasanya yang diomongin seputar gosip, kosmetik, kok tiba-tiba mikirin ekonomi”. Usut punya usut ia mengikuti pemberitaan media massa.

Kondisi yang sedang dialami temanku ini, setidaknya membenarkan apa yang dikatakan pakar analisis wacana, Fairlough. Bahwa media massa seperti virus yang luar biasa hebat dalam mendistribusikan pesan, tapi ingat, belum tentu fakta merah tersaji merah, mengingat banyaknya distorsi yang terdapat dalam organisasi media. Itulah mengapa, Fairlough mengingatkan kepada kita untuk tidak pasif dalam menelan pemberitaan media.

Kontan biasanya ekspresi wajahku kurang sumringah acap kali keinginannya membuncah untuk bergosip tetangga kamar sebelah, kali ini dengan sangat antusias aku mencoba menjelaskan semampu yang aku pahami. Diskusi kami diawali dengan pertanyaan-nya tentang subprime Mortgage yang menjadi awal malapetaka krisis AS dan menjadi krisis keuangan global.

Pertanyaannya tanpa cacat, lepas dan menyakinkan, seolah-olah dia begitu memahami apa yang barusan terlontar dari bibir tipisnya. Aku termenung sejenak untuk mencari kata yang tepat, mudah dan tidak rijit tentunya.

Awalnya aku sedikit tidak yakin dengan apa yang akan aku jelaskan, mengingat pemahamanku sendiri tentang ekonomi tidak begitu baik. Tapi demi seorang teman yang sedang kesetanan krisis ekonomi Amerika ini, aku mencoba menjelaskan semampu yang aku tahu. Beruntung beberapa kali aku mengikuti rapat-rapat proyeksi berita di kantor tentang masalah ini, dan berdiskusi kanan kiri dengan beberapa teman yang memang sangat menguasai bidang ini.

Untuk diketahui saja, jeung. aku memulai menjelaskan. Dampak krisis Amerika sangat terasa diseluruh belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Buktinya Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat ditutup (suspend), ini karena Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sangat hebat. Kondisi ini yang menjadi alasan otoritas bursa efek harus menutup pasar saham, kalau tidak salah hampir sepekan.

Menurut direktur BEI Ferry Firmansyah, penutupan bursa saham dilakukan untuk menyelamatkan pasar. Indikasinya bahwa pasar tidak stabil, terlihat pada awal pembukaan perdagangan di BEI terjadi irasional terhadap pelaku pasar. “Begini kira-kira ceritanya say” dengan penuh keyakinan aku memulai kuliah singkat ini.

Awal krisis ini bermula dari Bank Sentral USA atau The Fed menurunkan suku bunga secara drastis hingga 1%, angka ini adalah suku bunga terendah sepanjang sejaran perekonomian Amerika. Alasan penurunan suku bunga ini dilakukan untuk memulihkan perekonomian AS yang saat itu sedang mengalami resesi . mendengar kata resesi mendadak air mukanya berubah, ” pertumbuhan ekonominya minus atau pertumbuhan ekonominya tidak baik” dengan cepat aku meralat. kulihat matanya menyiratkan kegamangan yang terobati.

The Fed

Dalam ekonomi, menurunkan suku bunga adalah langkah yang biasa diambil ketika pertumbuhan perekonomian sebuah negara sedang kocar-kacir. Dengan menurunkan suku bunga, pertumbuhan ekonomi sektor rill akan terbantu. Aku meneruskan penjelasanku yang juga seperti kerasukan setan, karena tiba-tiba aku merasa seperti ahli ekonomi yang sedang memberikan kuliah umum di depan mahasiswa.

Pemahaman sederhananya begini, dengan diturunkanya suku bunga, maka banyak masyarakat atau pengusaha yang meminjam modal ke bank. Pengusaha misalnya, bisa melakukan ekspansi usahanya tanpa membebani operasi perusahaanya. Begitu juga dengan individu atau masyarakat, dengan turunya tingkat suku bunga akan membuat masyarakat berani untuk meminjam kerdit konsumsi.

Misalnya kredit kendaraan, bunga kartu kredit. Dengan pinjaman itu, baik pengusaha maupun individu akan membantu memulihkan atau menumbuhkan perekonomian, karena salah satu indikator pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi meningkat. Akan tetapi dengan diturunkanya suku bunga seperti sebuah keniscayaan, sebab akan menurunkan minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank. Mereka berpikir lebih baik meng-investasikan uangnya dalam bentuk lain, atau menggunakanya untuk konsumsi dari pada ditabung di bank dengan bunga yang rendah. Dan kondisi itu membuat perputaran uang di bank berkurang.

Penjelasanku berhenti sejenak, kusambar gelas yang berada disisi kiriku, sepertiga air yang tersisa, setidaknya memberi kesejukan bagi tenggorokanku yang sudah kering kerontang. Itulah kenapa aku mengatakan bahwa aku juga seperti kesetanan untuk membicarakan ini.

Diujung tempat tidurku, membelakangi televisi yang sesaat tidak menjadi penting bagi kami, temanku masih setia dengan posisinya, sedikitpun tidak bergeser. Bahkan dengan penuh kesabaran menungguku untuk menghabiskan sepertiga air yang sedang kupindahkan kedalam mulut. Uhuk…uhuk mendadak aku tersengguk air yang sedang mengalir ditenggorokanku, sesaat setelah dia melontarkan pertanyaanya tentang hubungan Subprime Mortgage dengan krisis ekonomi AS. Spontan sebuah bantal kecil berwarna merah menyala, berbentuk stroberi kutimpuk kearahnya, beruntung dia menghindar dengan cepat, selamatlah muka kemayunya dari kejengkelanku. Dasar manusia ginchu, alur penjelasanku tidak dipahami juga. Aku menarik nafas panjang.

Begini jeeeeeuuuuung, aku memberi penekanan pada kata-kata itu, mendadak aku kesal bukan kepayang, lagi-lagi demi seorang teman energi kesalku yang membuncah kualihkan dengan energi kesetananku untuk kembali menjelaskan bahwa suprime mortgage menjadi akar krisis ekonomi Amerika.

Rmh

Seperti yang aku bilang diawal, dengan menurunkan tingkat suku bunga yang diberlakukan bank sentral USA, menyebabkan mortage atau istilah di indonesia kita sering menyebut KPR, menerapkan bunga yang sangat rendah. “Matanya seolah mencari jawaban lain atau mengharap aku lebih terang menjelaskan ini, dan aku menangkap kesenewenanya”.Maksudnya untuk mengkredit sebuah rumah, bunga yang dibebankan kepada masyarakat rendah. Otomatis keadaan itu menarik minat masyarakat untuk membeli rumah dengan sistem KPR, baik untuk dipakai sendiri atau investasi.

Perlu kita pahami, bahwa sektor properti dalam menghasilkan produknya membutuhkan waktu yang cukup panjang, karena ada proses pembangunan. Meningkatnya permintaan masyarakat dan panjangnya waktu pembangunan tidak dipahami oleh pengembang properti Amerika. Kondisi ini membuat permintaan dan ketersediaan properti tidak seimbang, akibatnya harga properti menjadi setinggi langit. Ingat hukum ekonomi yang pernah di ajarkan semester dua? bahwa ketika permintaan banyak dan ketersediaan barang sedikit maka akan menaikan harga.

Naiknya harga properti membuat ekspansi masyarakat pada bidang ini juga tinggi, karena mereka berpikir, dalam jangka panjang investasi properti akan naik terus. dan keputusan yang bijak adalah menginvestasikan uangnya pada sektor properti dari pada menyimpanya di bank. Kondisi ini membuat harga properti Amerika setinggi langit.

Disisi lain, pemangkasan tingkat suku bunga oleh bank central Amerika ( The Fed) membuat perusahaan pengembang properti, mendapatkan akses pinjaman murah dari bank untuk melakukan ekspansi usahanya. Dan sirklus ini terjadi berulang-ulang. penjelasanku terhenti sejenak, karena mataku menangkap posisi duduknya yang mulai tak nyaman, aku rasa dia semakin bingung mendengar penjelasanku ini. Rupanya aku tidak menghiraukan bahasa tubuhnya yang meminta aku mengulangi penjelasan yang kupikir sudah membuat aku memeras otak dan aku terus melanjutkan kuliah singkat ini, tanpa titik ataupun jedah.

peta Amerika

Untuk diketahui saja, bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang paling konsumtif di dunia. Sebagai contoh, tabungan mereka pada tahun 2005 minus 0,5 % dari pendapatan mereka. Artinya konsumsi mereka lebih tinggi dari pendapatan mereka, maka tidak heran jika banyak dari warga Amerika yang mencarai tambahan income, dengan melakukan re-financing.

Mendegar istilah yang baru saja kusebutkan, bola matanya berputar, seolah mencari penjelasan. Tapi aku tetap tidak menghiraukan kegelisahannya mencari pemahaman sederhana atas penjelasanku, justru situasi itu membuat aku merasa menjadi orang hebat, seperti kebanyakan para ahli yang sering menggunakan istilah-istilah jlimet, hanya ingin terlihat bahwa mereka adalah orang pintar dan hebat. Padahal sesungguhnya, menjadi hebat atau ahli bukan lantaran membuat pendengar atau pembaca sulit mencerna penjelasannya, melainkan mudah dan sederhana memahami penjelasan.

Meningkatnya harga properti, kemudahan kredit serta rendahnya tingkat suku bunga, membuat masyarakat Amerika berbondong-bondong membeli properti, dengan cara mengambil pinjaman melalui bank dengan jaminan rumah yang sama. Uang pinjaman dari bank, biasanya mereka gunakan untuk konsumsi maupun investasi kembali pada properti yang lain. Alasannya karena tergiur oleh harga properti yang semakin malambung dan kondisi ini membuat harga properti semakin menggila. Usaha seperti ini yang aku sebut re-financing yang dilakukan masyarakat Amerika.

Patung liberty

Kulihat anggukan pelan dari wajahnya, “lalu” pertanyaannya menuntut aku semakin memeras otak, tapi demi sahabatku yang sedang kesetanan atau indikasi bahwa kepedulian dia tidak lagi hanya seputar ginchu dan konconya, tanpa beban aku teruskan kuliah singkat, meski harus terus memeras otak untuk mengingat diskusi-diskusi seputar ini tempo hari yang lalu. Kalau kata dosenku jaman kuliah dulu, Pak Jamiludin Ritonga, kondisis seperti ini adalah penggalian memori yang terendap.

“Lalu”, aku melanjutkan. Meningkatnya permintaan properti membuat institusi keuangan berlomba-lomba menawarkan kredit KPR. Bagi institusi keuangan mengucurkan dana untuk KPR bisa dijadikan usaha untuk mendapatkan keutungan lebih, mengingat jangka peminjaman yang relatif panjang, bisa mendapatka bunga yang relatif panjang, ditambah adanya jaminan berupa rumah pula. Salah satu cara menjaring customer adalah dengan menerapkan sistem Adjustable Rate Mortega (ARM), dengan iming-iming tingkat suku bunga pada 2-3 tahun pertama sangat rendah, namun pada tahun selanjutnya akan naik lebih tinggi. Maka berbondong-bondonglah masyarakat mengambil penawaran itu, meski bunga yang dibebankan pada tahun ke empat akan naik, tapi keyakinan harga properti akan naik terus, membuat masayarakt memutuskan menerima penawaran itu.

Sayangnya dalam menjaring customer, pihak institusi keuangan tidak selektif menjaring calon peminjam kredit. Hanya berkaca pada keuntungan semata, masyarakat yang secara finansial tidak baik, tetap mereka loloskan. Ditengan perjalanan kredit, tidak sedikit masyarakat yang tidak mampu lagi membayar cicilan akibat sistem ARM yang diterapkan. Akibatnya terjadi kemacetan kredit. Dan inilah awal krisis di Amerika yang berimbas pula pada belahan dunia, tidak terkecuali Negeri kita ini, Dev.

Rumah Sakit Jiwa Siaga Menjelang Pemilu Legislatif Bagikan

Rabu sore setelah seluruh aktifitas pekerjaan selesai, dari kursi singasananya dengan senyum yang reyah terlempar, Mas Muza biasa aku memanggilnya, memberikan halaman depan Media Indonesi a (MI, 18/03).  Tanpa jeda, koran MI pun telah berpindah dalam genggamanku. Dengan logat dan bicaranya yang khas, tegas, penuh humor namun pasti, ia utarakan apa maksud dan tujuan dengan isi editorial tersebut.

Mengingat hari itu begitu lelah, maka kuputuskan membacanya dirumah. Sesampainya di rumah, aku langsung tertawa tak hentinya, sambil terus mengulang deretan kata singkat yang menjadi intisari tulisan dibawahnya. Begini kira-kira tulisanya “RUMAH SAKIT JIWA MENANTI CALEG” terang aku semakin tergelitik untuk segera melahap isi editorial tersebut.

Ketercenganganku rupanya tidak berhenti pada judul tersebut, namun angka-angka yang ditampilkan oleh tim perumus editorial itu pun, semakin membuat reflek mulutku tak hentinya berdecak. Bayangkan saja, calon anggota legislative (caleg) yang akan bertarung memperebutkan kuris DPR-RI yang hanya berjumlah 560 kursi, mencapai 11.000 lebih caleg.

Dari jumlah total caleg dikurangi kursi yang ada, berarti akan ada 10.000 lebih caleg yang akan gagal menuju kursi dewan. Sementara jumlah caleg yang akan duduk di kursi dewan perwakilan daerah atau DPD mencapai 1000 lebih DPD. Padahal, kursi yang diperebutkan hanya 132 kursi. Lagi-lagi kouta kursi dan caleg yang terdaftar tidak sebanding. Artinya akan ada 900 lebih caleg yang akan gigit jari.

Dan yang lebih mengejutkan adalah jumlah DPRD tingkat provinsi yakni mencapai 112.000 caleg, sementara kursi yang tersedia hanya 1900 kursi lebih. Artinya lagi, akan 110.000 caleg yang akan tereliminasi. Namun angka yang paling fantastis adalah jumlah DPRD tingkat kabupaten dan kota, mencapai 1,5 juta caleg. Sementara kursi yang tersedia hanya 15.000 kursi. Berarti akan ada sekitar 1,4 juta lebih caleg yang akan gigit jari. Cek..cek…fantastis. sebagai catatan, jumlah caleg baik DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/kota adalah jumlah secara keseluruhan se-Indonesia.

Dari perhitungan diatas, secara keseluruhan akan ada 1,6 juta lebih caleg yang akan gagal menuju kursi dewan. Jumlah ini didapat dari jumlah total caleg DPR baik ditingkat pusat, provinsi, daerah dan DPD, dikurangi jumlah kursi yang tersedia.

Lalu apa hubunganya dengan jumlah caleg, kursi yang tersedia dan kegagalan sejumlah caleg dengan judul editorial tersebut ““RUMAH SAKIT JIWA MENANTI CALEG”??? Bisa jadi begini kira-kira korelasinya.

Terbatasnya jumlah kursi yang tersedia dengan jumlah caleg yang ada, membuat sejumlah caleg memutar otak untuk melakukan berbagai strategi kampanye untuk mendapatkan dukungan konstituenya. Fakta lain bahwa ongkos untuk melenggang ke kursi dewan tidaklah sedikit adalah soal nomer urut. Setidaknya caleg harus merogoh kantong begitu dalam untuk mendapatkan nomer urut kecil dalam daftar urut caleg. Tapi sayang rupiah yang sudah dikeluarkan untuk mendapatkan nomer urut, pada akhirnya tidak memilki kekuatan pasca keputusan mahkama konstitusi yang memberlakukan suara terbanyak.

Selain terbatasnya jumlah kursi, hal lain yang memicu pengeraha berbagai upaya untuk mendapat dukungan dari konstituenya adalah persaingan caleg dalam internal partai itu sendiri. Sudah pusing bersaing dengan caleg partai lain, masih juga dipusingkan dengan persaingan dalam internal partai sendiri. Maka terjadilah perang baliho, spanduk, famlet yang terpasang. Semakin banyak atribut partai mereka pasang, semakin besar peluang menyisihkan lawan baik internal partai maupun eksternal partai. Dan perkara tersebut tentu tidak sedikit membutuhkan biaya.

Tidak berhenti sampai disitu, rupanya para caleg juga harus berpikir keras bagaimana partai yang menjadi kendaraan politiknya bisa lolos ambang batas parlemen, yakni 2,5 parliamentary threshold. Jika tidak, meski caleg mendapatkan suara terbanyak, ia tidak bisa melenggang begitu saja ke senayan.

Dari sejumlah fakta diatas, bisa dibayangkan betapa depresinya caleg ketika hasil pengumuman pemilu legislative 9 april mendatang diumumkan. Sebuah penelitian dari ahli jiwa Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menyebutkan hasil tes yang dilakukan calon Bupati jawa timur menunjukan adanya ganguan jiwa, pasca kekalahnya pada pilkada. Mengingat ia telah menghabiskan uang lebih dari 3 miliar rupiah untuk biaya kampanye.

Penelitian mayebutkan, pemicu lain terjadinya gangguan jiwa, karena nominal sebesar itu berasal dari pinjaman dan menggadaikan bisninya. Berkaca pada penelitian tersebut, menjelang pemilu legislative 9 april mendatang wajar bila Direktorat Kesehatan Jiwa Department kesehatan telah menyiagan seluruh dokter di 32 rumah sakit jiwa seluruh Indonesia untuk mengatisipasi banyaknya pasien yang terserang gangguan jiwa pasca hasil pemilu legislative mendatang diumumkan (MI/18/03).

Tapi rupanya kesiagaan pihak rumah sakit menuai kendala, dengan jumlah total caleg yang dinyatakan kalah sebanyak 1,6 juta caleg, namun jumlah kamar di 32 rumah sakit jiwa hanya berjumlah 8.500 kamar. Kita lihat saja, apakah kesiagaan Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kehatan mampu menanggulangi banjirnya pasien pasca hasil pemilu mendatang!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.