Selamat Menempuh Hidup Baru Teman..

November 11, 2009

Decut….temanku, Decut sahabatku, Decut saudaraku, tak ada kata yang lebih pantas dan indah untuk mengambarkan suka cita kalian, kebahagian kalian dan kebersamaan kalian yang terajut dalam ikatan suci pernikahan. Hanya doa yang terus bergumul dalam hati saat kutulis ini semua. Doaku, harapanku semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah. Begitu kira-kira orang bijak, ustad, orang tua, atau preman sekalipun berharapan pada sebuah pernikahan.

Ah..pasti kau tak percaya apa yang kutulis ini, mengingat si penulis belumlah cukup garam menyoal banyak hal tentang penikahan. Tapi tak usah khawatir, apa yang akan aku bagi saat ini, sudah aku sarikan dari buku-buku yang sengaja aku buru jauh hari sebelum hari pernikahanmu, curhat teman yang menikah muda yang masih terendap segar dalam memory, dan rekan-rekan yang jauh usianya diatas ku. He..he…

decut weding

Jaleswari Pramodharwani pernah berkata bahwa perkawinan sering dianggap puncak-puncak prestasi dalam perjalanan hidup, padahal ia (perkawinan) adalah sekumpulan kisah gembira sekaligus duka. Cerita menjengkelkan dan menyenangkan bersama. Air mata bahagia dan kegetiran bersama. Maka menurutnya tidak ada rumus tunggal untuk membangun kebahagian dalam perkawinan.

Sekilas jika kita renungkan apa yang dikatakan oleh jaleswari, secara kasat mata kita akan langsung berkesimpulan bahwa lembaga pernikahan adalah institusi yang membuat kengerian, apatis dan penuh kekhawatiran. Jika parameternya adalah tayangan televisi yang sering kali mempertontonkan perceraian selebriti, tentu apa yang dikatakan jaleswari bisa dibenarkan.

Tapi tunggu dulu teman, apa yang dikatakan jaleswari memang benar bahwa institusi pernikahan bukanlah institusi yang bebas dari tekanan dan pengharapan kedua belah pihak. Bahkan tanpa disadari keduanya (kalian) tanpa sadar memasang ego yang tidak terencana, karena kondisi adat, kebiasaan atau kisah-kisah ayat suci yang dijadikan pembenaran. Kasus poligami misalnya.

Rupanya atas kengerian itu, Jalaswari menemukan penawar yang cukup nyentrik jika dipraktekan di zaman ini, mengingat krisis kepercayaan terhadap pasangan kian hari kian menyusut. Penawar itu rupanya sebuah ruang yang besar yang harus ada diantara kalian, mengingat jarak tempuh yang akan kalian lewati sangat panjang. Isilah ruang itu dengan saling pengertian dan pemahaman, menerima dengan sepenuh hati baik kelebihan dan kekurangan kalian, dengan mengelolah kemarahan.

Meski bertubi – tubi rasa cinta atau ikat bunga mawar yang diberikan kepada pasangan, tidak lantaran semuanya bisa mengebalkan pertengkaran. Jika pertengkaran terjadi, ingatlah kalian tidak boleh meninggalkan gelanggang pertengkaran begitu saja. Namun jika hal itu terpaksa terjadi, ingatlah bahwa kalian saling menyayangi dan mencintai, meski sejuta kesal, amarah dan kejengkelan terjadi. Ingatlah RAHASIA PERTENGKARAN ITU, Teman.

Lain lagi apa yang didengungkan oleh Nirwan Dewanto, seniman sekaligus suami dari musisi wanita berambut cepak atau kita sering menyapanya Mba Upit. Perkawinan dimatanya seumpama sebuah musik jazz, dimana sang pasangan dengan keterampilan, wawasan dan kesadaran diri masing-masing sanggup memainkan improvisasi tak terduga dari komposisi yang terencana.

So….pernikahan ternyata mudah tapi juga sulit, dan kalian akan membuktikanya pada institusi yang akan kalian jalani ini. apa memang benar yang dikatakan orang-orang itu. kutunggu jawaba dari kalian.

Akhirnya, harga termahal pada sebuah pernikahan adalah meleburnya jati diri kalian, bukankah saling menghargai keberadaan masing-masing itu yang lebih baik.

Untuk Ara, meski aku belum begitu mengenal Suami sekaligus imam sahabatku Decut, Aku yakin Ara orang yang bertanggung jawab. Hanya itu, cukup. Karena buatku pertanggung jawaban sudah menggambarkan cinta, sayang, dan istilah lainya yang berada dalam wilayah itu.

Kalau boleh aku berharap pada Ara, sayangi wanita yang dengan rela memilih hidup bersamamu, menjadi nakhoda yang handal atas badai yang akan terjadi dalam biduk rumah tangga kalian. Cintai sahabatku ini sampai akhir hayatnya, jangan pedulikan kulitnya yang mengeriput atau rambutnya yang memutih.

Untuk sahabatku Dewi, harapanku semoga menjadi istri yang baik, menjadi nafigator yang handal bagi nakhodamu, ibu yang dapat melahirkan buah hati yang manis dan cerdas.

SELAMAT MNEMPUH HIDUP BARU…..

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.