Subprime Mortage di Mata sahabatku

November 11, 2009

Tanpa angin tanpa hujan seorang teman bertanya seputar krisis finansial global. Mendengar berondongan pertanyaan temanku, mendadak air muka-ku berubah, bingung, heran dan sempat membatin (komunikasi dalam hati) “kesetanan apa nih anak, biasanya yang diomongin seputar gosip, kosmetik, kok tiba-tiba mikirin ekonomi”. Usut punya usut ia mengikuti pemberitaan media massa.

Kondisi yang sedang dialami temanku ini, setidaknya membenarkan apa yang dikatakan pakar analisis wacana, Fairlough. Bahwa media massa seperti virus yang luar biasa hebat dalam mendistribusikan pesan, tapi ingat, belum tentu fakta merah tersaji merah, mengingat banyaknya distorsi yang terdapat dalam organisasi media. Itulah mengapa, Fairlough mengingatkan kepada kita untuk tidak pasif dalam menelan pemberitaan media.

Kontan biasanya ekspresi wajahku kurang sumringah acap kali keinginannya membuncah untuk bergosip tetangga kamar sebelah, kali ini dengan sangat antusias aku mencoba menjelaskan semampu yang aku pahami. Diskusi kami diawali dengan pertanyaan-nya tentang subprime Mortgage yang menjadi awal malapetaka krisis AS dan menjadi krisis keuangan global.

Pertanyaannya tanpa cacat, lepas dan menyakinkan, seolah-olah dia begitu memahami apa yang barusan terlontar dari bibir tipisnya. Aku termenung sejenak untuk mencari kata yang tepat, mudah dan tidak rijit tentunya.

Awalnya aku sedikit tidak yakin dengan apa yang akan aku jelaskan, mengingat pemahamanku sendiri tentang ekonomi tidak begitu baik. Tapi demi seorang teman yang sedang kesetanan krisis ekonomi Amerika ini, aku mencoba menjelaskan semampu yang aku tahu. Beruntung beberapa kali aku mengikuti rapat-rapat proyeksi berita di kantor tentang masalah ini, dan berdiskusi kanan kiri dengan beberapa teman yang memang sangat menguasai bidang ini.

Untuk diketahui saja, jeung. aku memulai menjelaskan. Dampak krisis Amerika sangat terasa diseluruh belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Buktinya Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat ditutup (suspend), ini karena Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sangat hebat. Kondisi ini yang menjadi alasan otoritas bursa efek harus menutup pasar saham, kalau tidak salah hampir sepekan.

Menurut direktur BEI Ferry Firmansyah, penutupan bursa saham dilakukan untuk menyelamatkan pasar. Indikasinya bahwa pasar tidak stabil, terlihat pada awal pembukaan perdagangan di BEI terjadi irasional terhadap pelaku pasar. “Begini kira-kira ceritanya say” dengan penuh keyakinan aku memulai kuliah singkat ini.

Awal krisis ini bermula dari Bank Sentral USA atau The Fed menurunkan suku bunga secara drastis hingga 1%, angka ini adalah suku bunga terendah sepanjang sejaran perekonomian Amerika. Alasan penurunan suku bunga ini dilakukan untuk memulihkan perekonomian AS yang saat itu sedang mengalami resesi . mendengar kata resesi mendadak air mukanya berubah, ” pertumbuhan ekonominya minus atau pertumbuhan ekonominya tidak baik” dengan cepat aku meralat. kulihat matanya menyiratkan kegamangan yang terobati.

The Fed

Dalam ekonomi, menurunkan suku bunga adalah langkah yang biasa diambil ketika pertumbuhan perekonomian sebuah negara sedang kocar-kacir. Dengan menurunkan suku bunga, pertumbuhan ekonomi sektor rill akan terbantu. Aku meneruskan penjelasanku yang juga seperti kerasukan setan, karena tiba-tiba aku merasa seperti ahli ekonomi yang sedang memberikan kuliah umum di depan mahasiswa.

Pemahaman sederhananya begini, dengan diturunkanya suku bunga, maka banyak masyarakat atau pengusaha yang meminjam modal ke bank. Pengusaha misalnya, bisa melakukan ekspansi usahanya tanpa membebani operasi perusahaanya. Begitu juga dengan individu atau masyarakat, dengan turunya tingkat suku bunga akan membuat masyarakat berani untuk meminjam kerdit konsumsi.

Misalnya kredit kendaraan, bunga kartu kredit. Dengan pinjaman itu, baik pengusaha maupun individu akan membantu memulihkan atau menumbuhkan perekonomian, karena salah satu indikator pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi meningkat. Akan tetapi dengan diturunkanya suku bunga seperti sebuah keniscayaan, sebab akan menurunkan minat masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank. Mereka berpikir lebih baik meng-investasikan uangnya dalam bentuk lain, atau menggunakanya untuk konsumsi dari pada ditabung di bank dengan bunga yang rendah. Dan kondisi itu membuat perputaran uang di bank berkurang.

Penjelasanku berhenti sejenak, kusambar gelas yang berada disisi kiriku, sepertiga air yang tersisa, setidaknya memberi kesejukan bagi tenggorokanku yang sudah kering kerontang. Itulah kenapa aku mengatakan bahwa aku juga seperti kesetanan untuk membicarakan ini.

Diujung tempat tidurku, membelakangi televisi yang sesaat tidak menjadi penting bagi kami, temanku masih setia dengan posisinya, sedikitpun tidak bergeser. Bahkan dengan penuh kesabaran menungguku untuk menghabiskan sepertiga air yang sedang kupindahkan kedalam mulut. Uhuk…uhuk mendadak aku tersengguk air yang sedang mengalir ditenggorokanku, sesaat setelah dia melontarkan pertanyaanya tentang hubungan Subprime Mortgage dengan krisis ekonomi AS. Spontan sebuah bantal kecil berwarna merah menyala, berbentuk stroberi kutimpuk kearahnya, beruntung dia menghindar dengan cepat, selamatlah muka kemayunya dari kejengkelanku. Dasar manusia ginchu, alur penjelasanku tidak dipahami juga. Aku menarik nafas panjang.

Begini jeeeeeuuuuung, aku memberi penekanan pada kata-kata itu, mendadak aku kesal bukan kepayang, lagi-lagi demi seorang teman energi kesalku yang membuncah kualihkan dengan energi kesetananku untuk kembali menjelaskan bahwa suprime mortgage menjadi akar krisis ekonomi Amerika.

Rmh

Seperti yang aku bilang diawal, dengan menurunkan tingkat suku bunga yang diberlakukan bank sentral USA, menyebabkan mortage atau istilah di indonesia kita sering menyebut KPR, menerapkan bunga yang sangat rendah. “Matanya seolah mencari jawaban lain atau mengharap aku lebih terang menjelaskan ini, dan aku menangkap kesenewenanya”.Maksudnya untuk mengkredit sebuah rumah, bunga yang dibebankan kepada masyarakat rendah. Otomatis keadaan itu menarik minat masyarakat untuk membeli rumah dengan sistem KPR, baik untuk dipakai sendiri atau investasi.

Perlu kita pahami, bahwa sektor properti dalam menghasilkan produknya membutuhkan waktu yang cukup panjang, karena ada proses pembangunan. Meningkatnya permintaan masyarakat dan panjangnya waktu pembangunan tidak dipahami oleh pengembang properti Amerika. Kondisi ini membuat permintaan dan ketersediaan properti tidak seimbang, akibatnya harga properti menjadi setinggi langit. Ingat hukum ekonomi yang pernah di ajarkan semester dua? bahwa ketika permintaan banyak dan ketersediaan barang sedikit maka akan menaikan harga.

Naiknya harga properti membuat ekspansi masyarakat pada bidang ini juga tinggi, karena mereka berpikir, dalam jangka panjang investasi properti akan naik terus. dan keputusan yang bijak adalah menginvestasikan uangnya pada sektor properti dari pada menyimpanya di bank. Kondisi ini membuat harga properti Amerika setinggi langit.

Disisi lain, pemangkasan tingkat suku bunga oleh bank central Amerika ( The Fed) membuat perusahaan pengembang properti, mendapatkan akses pinjaman murah dari bank untuk melakukan ekspansi usahanya. Dan sirklus ini terjadi berulang-ulang. penjelasanku terhenti sejenak, karena mataku menangkap posisi duduknya yang mulai tak nyaman, aku rasa dia semakin bingung mendengar penjelasanku ini. Rupanya aku tidak menghiraukan bahasa tubuhnya yang meminta aku mengulangi penjelasan yang kupikir sudah membuat aku memeras otak dan aku terus melanjutkan kuliah singkat ini, tanpa titik ataupun jedah.

peta Amerika

Untuk diketahui saja, bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang paling konsumtif di dunia. Sebagai contoh, tabungan mereka pada tahun 2005 minus 0,5 % dari pendapatan mereka. Artinya konsumsi mereka lebih tinggi dari pendapatan mereka, maka tidak heran jika banyak dari warga Amerika yang mencarai tambahan income, dengan melakukan re-financing.

Mendegar istilah yang baru saja kusebutkan, bola matanya berputar, seolah mencari penjelasan. Tapi aku tetap tidak menghiraukan kegelisahannya mencari pemahaman sederhana atas penjelasanku, justru situasi itu membuat aku merasa menjadi orang hebat, seperti kebanyakan para ahli yang sering menggunakan istilah-istilah jlimet, hanya ingin terlihat bahwa mereka adalah orang pintar dan hebat. Padahal sesungguhnya, menjadi hebat atau ahli bukan lantaran membuat pendengar atau pembaca sulit mencerna penjelasannya, melainkan mudah dan sederhana memahami penjelasan.

Meningkatnya harga properti, kemudahan kredit serta rendahnya tingkat suku bunga, membuat masyarakat Amerika berbondong-bondong membeli properti, dengan cara mengambil pinjaman melalui bank dengan jaminan rumah yang sama. Uang pinjaman dari bank, biasanya mereka gunakan untuk konsumsi maupun investasi kembali pada properti yang lain. Alasannya karena tergiur oleh harga properti yang semakin malambung dan kondisi ini membuat harga properti semakin menggila. Usaha seperti ini yang aku sebut re-financing yang dilakukan masyarakat Amerika.

Patung liberty

Kulihat anggukan pelan dari wajahnya, “lalu” pertanyaannya menuntut aku semakin memeras otak, tapi demi sahabatku yang sedang kesetanan atau indikasi bahwa kepedulian dia tidak lagi hanya seputar ginchu dan konconya, tanpa beban aku teruskan kuliah singkat, meski harus terus memeras otak untuk mengingat diskusi-diskusi seputar ini tempo hari yang lalu. Kalau kata dosenku jaman kuliah dulu, Pak Jamiludin Ritonga, kondisis seperti ini adalah penggalian memori yang terendap.

“Lalu”, aku melanjutkan. Meningkatnya permintaan properti membuat institusi keuangan berlomba-lomba menawarkan kredit KPR. Bagi institusi keuangan mengucurkan dana untuk KPR bisa dijadikan usaha untuk mendapatkan keutungan lebih, mengingat jangka peminjaman yang relatif panjang, bisa mendapatka bunga yang relatif panjang, ditambah adanya jaminan berupa rumah pula. Salah satu cara menjaring customer adalah dengan menerapkan sistem Adjustable Rate Mortega (ARM), dengan iming-iming tingkat suku bunga pada 2-3 tahun pertama sangat rendah, namun pada tahun selanjutnya akan naik lebih tinggi. Maka berbondong-bondonglah masyarakat mengambil penawaran itu, meski bunga yang dibebankan pada tahun ke empat akan naik, tapi keyakinan harga properti akan naik terus, membuat masayarakt memutuskan menerima penawaran itu.

Sayangnya dalam menjaring customer, pihak institusi keuangan tidak selektif menjaring calon peminjam kredit. Hanya berkaca pada keuntungan semata, masyarakat yang secara finansial tidak baik, tetap mereka loloskan. Ditengan perjalanan kredit, tidak sedikit masyarakat yang tidak mampu lagi membayar cicilan akibat sistem ARM yang diterapkan. Akibatnya terjadi kemacetan kredit. Dan inilah awal krisis di Amerika yang berimbas pula pada belahan dunia, tidak terkecuali Negeri kita ini, Dev.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.