Mi’i Blog’s

Ikantan Motor Indonesia (IMI) istilah yang biasa saya gunakan untuk memperkenalkan nama saya. padahal secara historis tidak ada hubungan antara paguyuban kendaraan bermotor “IMI” dengan nama saya. Hanya saja istilah itu lebih mudah diterima ketika saya memperkenalkan diri, terutama dengan orang asing yang baru saja saya kenal. Mengingat bagi sebagian orang, ketika saya menyebutkan nama panggilan saya “IMIE” banyak yang selalau keliru dengan memanggil “INI”. Jika itu terjadi, secepat kilat saya langsung menyebut istilah paguyuban motor tersebut “IMI”. Baru deh yang didepan atau di ujung telepon manggut-anggut tanda sepaham.

Dengan penuh cinta dan harapan bahwa akan selalu ada yang terbaik untuk buah hatinya, “Rohaimi” adalah nama yang mereka sematkan pada putrinya yang lahir di hari kamis subuh pada 4 Februari 1983. Ditarik dari tahun dimana saya lahir sampai saya menulis ini, kira-kira sudah 26 tahun usia saya. Hm..mm…usia yang sudah tidak remaja lagi bukan? tapi saya merasa tetap merasa muda sampai kapanpun, setidaknya energi dan jiwaku. Meski nantinya, secara fisiki sudah tidak lagi bisa menutupi rentanya usia. halahhhhh..lebay mode:on.

Kembali pada nama singkat saya “Rohaimi”. Saya tidak ingat kapan persisnya ketika saya memprotes mengapa nama saya tidak seperti nama-nama adik saya yang terdengar sedikit lebih kekinian. Seperti “Affriyanti” atau “Rini Shintya” atau kakak saya “Siti Rahayu”.

Dengan senyum penuh bijak kedua orang tua saya menjelaskan kenapa mereka memilih nama dengan 4 kata itu “Ro-ha-i-mi”. “Itu karena kami berharap kamu menjadi anak yang mendapat limpahan kasih sayang dari seisi dunia”. Bapakku pernah berkata, nama itu diambil dari kata terakhir pada kalimat pertama dalam kitab suci kami “Al-quran” yaitu “Bissmilah hirohhmman nirrohimmi” yang artinya yang maha pengasih lagi maha penyayang. Mendengar penjelasan lelaki paruh baya yang saat ini rambutnya sudah banyak yang memutih, aku hanya mengangguk pelan, tanda setuju dengan senyum yang mengembang mematahkan simpul-simpul penasaranku selama ini.

Lalu apa ya hubungan namaku dengan nama blog yang ada dihadapan pembaca budiman (Merci Beaucop…ya sudah meluangkan waktu membaca tulisanku. Bagi yang belum memulai menulis, ayo menulis. Karena dengan menulis kita membuat dan merekam sejarah, khususnya sejarah diri kita sendiri. tidak hanya itu, menulis juga sebuah kegiatan intelektual yang akan terus mendorong kita untuk membaca, karena dengan menulis maka kita membaca. Halahhhhh lebay kembali mode: on.)

Mi’i adalah panggilan istimewa yang diberikan dua sahabat saya “Afni Sasmita” atau yang biasa saya sapa “ai” dan “So-v” atau yang biasa saya panggil “Nur” ( he..he..ga nyambung ya, masa nama so_v dipanggil “Nur”. awalnya saya panggil dia “Nur” karena dulu waktu kami masih sama-sama menjabat sebagai mahasiswa di Universitas INDONUSA Esa Unggul-Jakarta. Saat itu dia menjadi suhu di organisasi kemahasiswaan fakultas “BEM-Fakultas” dengan jabatan “Gubernur”. Karena seringnya kami mengadakan rapat koordinasi terkait kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, dimana saya menjabat sebagai “Walikota” pada jurusan jurnalistik, maka saya panggil dia “Nur” sempalan dari kata “Gubernur”. Jujur loh, panggilan “Nur” bukan lantaran karena sok ingin terlihat esklusif, seperti pemerintahan negeri ini yang tidak sedikit dengan gaya pencitraan yang diciptakan, tapi hanya sekedar exis aja kok, maklum saat itu jiwa exsistensinya masih tinggi banget, he..he..)

Nah, karena sulitnya atau mungkin ribetnya memanggil saya dengan “Rohaimi” maka temen-teman memotong nama saya dengan “Mie” untuk sapaan sehari-hari. Dari nama “MIe” lah lalu tercipta nama “Mi’I”.

Saya lupa pesisnya bagaimana, tapi kalau tidak salah tiba-tiba “Nur” memanggil saya dengan memanjangkan nama panggilan saya “Mie” dengan “Mi’i” Lama-lama telingan saya pun nyaman saja dipanggil mi’I apalagi dengan nada khas mereka, dengan memanjangkan dan menekan huruf “i” dibelakang, rasanya terdengar akrab dan ada kedekatan tersendiri. Dan hanya mereka berdualah yang memanggil nama “MI’I”. (kalau kalian (“Ai” & “Nur”) sempat mampir ke blog saya, saya tunggu ya alasan kongkrit mengapa kalian memanggil saya “Mi’I”).

Maka seperti yang saya rasakan ketika dipanggil “Mi’I”, saya berharap semua cerita yang saya bagi disini, tercipta pula keakraban dan kenyaman atas semua sejarah yang saya rekam dalam jalinan kata ini. Tidak hanya itu, harapan terbesar mengapa saya menulis adalah untuk terus mengali sumber inspirasi pada tiap sudut pengalaman saya, setidaknya inspirasi bagi diri saya dan generasi penerus saya nantinya.

“Jika lisan mudah terlupa, dengan tulisan maka abadi”

Differnt Style

Rohaimi,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.